Vinsensius Awey : Menguji Suara Tuhan Dalam Demokrasi Kita

Vinsensius Awey anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya (JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Rekapitulasi perhitungan suara KPU Jatim Hampir rampung dilakukan. Nama-nama calon legislatif yang bakal lolos menempati kursi DPR RI sudah terpublis untuk daerah pemilihan (Dapil) Surabaya-Sidoarjo. Sepuluh kursi yang diperebutkan dari Dapil Jatim 1 (Surabaya-Sidoarjo) kursi pertama diisi dari PDI Perjuangan yakni Puti Guntur Soekarno disusul oleh caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) – Syaikhul Islam, kursi ketiga Gerindra ada Rahmat Muhajirin atau Bambang Haryo, sedang partai Golkar diwakili oleh Adies Kadir, kemudian kursi kelima kembali PDIP menempatkan mantan Walikota Surabaya dua periode Bambang DH, dan PAN diwakili oleh Sungkono atau Sunartoyo, PKS ada Sigit Sosiantomo serta kursi kedelapan kembali diisi PKB – Arzeti Bilbina atau Fandi Utomo, kursi selanjutnya diisi PDIP – Indah Kurniawati. Namun, perebutan kursi kesepuluh yang Akan diperebutkan Partai Demokrat (Lucy) dan Partai Nasdem (Vinsensius Awey), menunggu rekapitulasi 100% KPU.

Kesempatan ngobrol ringan dengan media ini seputar perolehan suaranya, Awey yang sekarang sebagai legislator DPRD Kota Surabaya yangt duduk di Komisi C itu, berjuang maju ke DPR RI tanpa saksi dan tanpa tim sukses. Yang dia andalkan pada kesempatan Pileg beberapa waktu yang lalu adalah hasil kerjanya selama 4,5 tahun menjadi anggota DPRD Kota Surabaya.

“Kalau dibilang marah, mungkin lebih tepatnya saya lagi menguji suara Tuhan pada Demokrasi tahun ini. Karena dalam perjalanan karier saya, sejak sekolah kuliah hingga menjalankan bisnis, selalu dikasih kemudahan dan dilancarkan seghala urusan saya,” ujar dia, Senin (6/5)

Pernah seorang teman menyampaikan pesan, kamu harusnya bersyukur karena selama ini hidupmu sudah dikasih kemudahan dan kelancaran oleh Tuhan. Giliran Tuhan mengujimu gagal dalam pesta Demokrasi dalam Pileg 2019, kamu sudah mengeluh dan marah kepada Nya, cerita Awey menirukan pesan seorang temannya.

“Dari sepuluh kursi yang diperebutkan dari Dapil Jatim 1 (Surabaya- Sidoarjo) masak tidak satupun kursi yang bisa diperoleh dengan cara demokrasi, masak sepuluh kursi semuanya harus dibeli,” celoteh Awey.

Awey pun menilai pertarungannya untuk bisa menduduki kursi DPR RI tidaklah cukup dengan hanya bermodal popularitas dan kerja yang telah dilakukannya. Disayangkan demokrasi kita ini masih bisa dibeli.

“Untuk itu sisitem politik kita yang harus dievaluasi dan diperbaiki. Jika capital politik kita masih tetap seperti ini hemat saya masyarakat tidak lagi perlu dibantu kesejahteraannya. Kalu seperti itu tunggu lagi lima tahun kita akan datang untuk membeli demokrasi yang kalian jajakan,” tutup awey. (JB01)

Share this post

No comments

Add yours