Ketua Komisi C : Hasil Rapat Hearing, Gunawangsa Tidar Harus Bongkar Rencana Penutupan Sungai

Suasana rapat hearing di Komisi C DPRD Surabaya terkait pembangunan Apartemen Gunawangsa Tidar Surabaya (foto : JB01)

JURNALBERITA.ID – SURABAYA, Rapat dengar pendapat (hearing) lanjutan Komisi C DPRD Surabaya terkait dampak pembangunan apartemen Gunawangsa Tidar terus dipersoalkan pihak warga Asemrowo dan Tembok Dukuh Surabaya. Pasalnya analisa dampak lingkungan yang dikeluarkan pihak Dunas Lingkungan Hidup dalam rapat Amdal belum bisa dikategorikan mewakili warga terdampak.

Sebelumnya pihak DLH terbukti dalam hearing lanjutan, Senin (3/12) secara fakta, menggelar sosialsasi pada warga hanya satu kali saja. Itupun Lurah Asemrowo lama saat menjabat telah melebihi kewenangannya secara hukum yang mewakili kepentingan warga dengan mengatasnamakan sebagai pejabat negara saat itu. Hal ini ditegaskan Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri pada saat hearing, yang menghadirkan Dinas terkait, Mangemen Gunwangsa tidar, RT/ RW dan perwakilan warga terdampak.

Menurut Syaifuddin Zuhri, tindakan manajemen apartemen Gunawangsa Tidar sudah jelas menyalahi aturan, karena sampai saat ini belum mengantongi ijin dari dinas terkait terutama Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Surabaya terkait rencana penutupan fasum sungai Tembok Dukuh yang dibiaya oleh APBD kota Surabaya. “Sangat jelas apartemen Gunwangsa Tidar menyalahi aturan yang ada, karena mereka belum mengantongi ijin dari PU Bina Marga kota Surabaya. Pembongkaran pagar adalah tindakan melawan hukum yang merusak aset milik Pemkot Surabaya,” tegasnya.

Untuk itu, Syaifuddin meminta agar manajemen Gunawangsa segera melakukan pembongkaran, agar rencana pembangunan itu tidak mengganggu aliran sungai tersebut. Oleh karenanya, saat ini sudah banyak timbunan sampah yang tersangkut, ucapnya kepada sejumlah awak media, usai hearing.

Menanggapi soal alasan pihak Gunawangsa  Tidar yang mengatakan jika proyeknya memang belum final, Syaifuddin Zuhri mengaku justru semakin yakin jika kegiatan normalisasi sungai yang dilaksanakan Pemkot Surabaya bermuatan titipan Gunawangsa Tidar pada Pemkot Surabaya.

“Ini membuat kami semakin yakin jika didalamnya ada skenario yang dititipkan kepada Pemkot terkait normalisasi sungai itu, tapi sesungguhnya itu untuk fasilitas bisnis mereka,” tandasnya.

Kalau akhirnya tidak disetujui Pemkot dan harus dibongkar, apa keberatan pihak Gunawangsa, karena mereka bertindak tidak berdasarkan persetujuan dinas terkait. Maka konsekuensinya mereka harus membongkar. Karena jelas akan mengkibatkan banjir, imbuhnya.

Jika imbauan membongkar sendiri tidak di indahkan  pihak manajemen apartemen Gunawangsa Tidar, maka Cak Ipuk-sapaan akrab Syaifuddin Zuhri meminta sekaligus mendesak kepada Pemkot Surabaya (Dinas PU Bina Marga dan Pematusan) untuk segera mengeluarkan surat bantuan penertiban (Bantib).

“Kita minta agar segera mengeluarkan Bantib, jadi tindakan yang diluar persetujuan Pemkot harus segera ditertibkan agar tidak mengganggu, apalagi saat ini musim hujan. Fasum itu hanya boleh dipelihara oleh Negara (Pemkot) bukan atas perorangan maupun intansi swasta,” tuturnya.

sementara Triady Gunawan (putra Soekoco Gunawan) pemilik PT Warna Warni Investama membantah tudingan rapat Amdal yang dilakukan telah melibatkan pihak konsultan bangunan, Benjamin Lumantarna (Petra). Dan menurutnya, pihaknya telah melakukan sosialisasi rencana pembangunan sebanyak tiga kali yang dihadiri oleh perwakilan warga.

“Sebelum kami melakukan tahapan pembangunan awal. kami telah melakukan sosialisasi sebanyak tiga kali pada warga. Saat itu dihadiri oleh perwakilan warga, tidak hanya satu kali seperti yang disebutkan oleh ketua RT 5 RW 2 Asemrowo,” tegas Andik panggilan akrab Triady Gunawan,”

hal sebada juga disampaikan oleh kakak kandung Triady gunawan. Junaedy Gunawan membeberkan, pembanguan Gunawangsa Tidar bertujuan secara bersama-sama pemerintah kota dan masyarakat kota Surabaya untuk maju bersama-sama. “Tujuan kami tidak lain memberikan fasilitas pada warga sekitar. Untuk itu kami bangunkan akses jalan yang akan menutup sungai Tembok dukuh itu. Sebelum pembangunan kami sudah melakukan kajian teknis dan dampak dari penutupan sungai itu,” terangnya.

Misalnya untuk akses masuk mobil Ambulan maupun mobil kebaaran saat nanti terjadi kebakaran di kawasan tersebut, tukas pria lulusan Universitas Melbourne Australia ini. (JB01)

 

Share this post

No comments

Add yours